Surat terbuka untuk mama!

Halo Ma,

Apa kabar

Ah, rasanya ganjil sekali melontarkan itu. Kita satu rumah, namun jarang kutanyakan kabarmu. Anak macam apa aku ini. Makanan yang kau sediakan di atas meja tak lantas membuatku peduli kabarmu saban hari. Maaf ya, Ma

Ma

Mungkin kita jarang berbicara. Saat membuka mulut pun, hanya adu argumen yang ada. Rasanya susah sekali menahan diri. Apapun yang ada di kepala, aku lontarkan semua. Begitu terucapkan, aku hanya bisa menyesal.

Mama mungkin sudah biasa. Menghadapi ego dan kesoktahuan anaknya. Dari dulu, pikirmu. Tidak apa-apa. Engkau tersenyum, dan tersenyum saja

Mamaku yang cantik

Apa aku boleh bertanya? Bagaimana bentukku saat aku keluar dari rahimmu? Aku penasaran, Ma. Hanya bisa kubayangkan sakitnya. Dari situ pikiranku melanglang: ketika 9 bulan membawaku, hal-hal ganjil apa saja yang kulakukan terhadapmu? Bagaimana perasaanmu ketika tahu rasa sakitmu sebagai ibu tak hanya kau derita saat melahirkan saja? Dari situ aku bisa mengerti, betapa sabar dirimu selama ini

Tapi harus kuakui. Kadang memang aku heran pada sikapmu. Mama pernah marah-marah ketika aku main ke rumah teman sampai jam 10 malam. Mama sibuk meneleponku untuk pulang, padahal aku sudah bilang berkali-kali bahwa aku aman

Aku tahu Mama takut terjadi apa-apa denganku di jalan. Tapi tenanglah, Ma. Aku pasti bisa menjaga diri. Bukankah Mama sendiri yang mengajarkan aku untuk berani? Mungkin memang sulit Mama percayai, tapi aku sekarang sudah besar. Sudah tahu bagaimana melindungi diriku sendiri di jalan. Mama ingat pernah menasihati supaya aku pandai berteman? Nah, kini aku punya teman-teman yang bisa kuandalkan ketika aku pulang terlalu malam

Ma, sebenarnya ada banyak hal yang ingin kusampaikan. Tapi aku terlalu malu untuk mengatakannya langsung. Aku takut melihatmu menangis. Aku tidak tahan melihat air matamu keluar. Apalagi ketika aku harus pergi ke tempat yang jauh dari rumah.

Saat aku hendak berkelana sementara, Mama membuktikan perhatian dengan mempersiapkan barang bawaan untukku. Sayangnya, terkadang aku sendiri bingung barang-barang itu harus aku apakan

Ini mama siapin selimut. Bawa ya

Aduh, ntar beli aja di sana. Berat tauk ma

Aku masih ingat itu. Aku menolak barang-barang yang sudah kau siapkan untukku. Hanya ketika mau berangkat, aku mengangkutnya ke bagasi. Dengan berat hati, dan separuh mencak-mencak tak mengerti

Namun saat jauh, aku rindu padamu. Ah…Untunglah ada barang-barang ini. Kupeluk saja selimut yang Mama siapkan. Aku tidak jadi kedinginan

Bolehkah aku bertanya tentang impianmu saat muda dulu? Ketika umur 5, 10, atau seumurku, cita-cita apa yang sebenarnya Mama gantungkan? Dokterkah, layaknya anak-anak pada umumnya? Atau malah Mama punya cita-cita yang lebih unik, seperti fotografer dan penulis buku?

Maaf ya Ma, gara-gara aku, Mama harus berhenti mengejar impian masa kecil Mama. Karena keberadaanku, Mama harus rela mengambil apapun kesempatan berkarya yang ada, dan bekerja 2 kali lebih keras dari seharusnya

Ya

Aku melihatmu sebagai seorang pekerja keras. Bahkan tugas-tugas rumahan sebenarnya menyedot banyak tenaga dan waktu luang. Pagi-pagi sekali, Mama harus bangun untuk memasak sarapan. Selanjutnya, Mama harus menyiapkan peralatan sekolahku. Mama harus mengantarku ke sekolah, berbelanja agar di rumah ada yang bisa dimakan

Kadang, kalau aku sedang rajin aku akan berusaha membantumu semampuku. Tapi Mama pun tidak selalu memperbolehkanku membantu. “Sudah belajar, belum?” tanyamu

Iya, Mama banyak bertanya. Pertanyaan Mama pun sebenarnya selalu sama: “Sudah makan belum?”, “Sudah sholat?” Kalau aku menjawab “belum”, nada bicaramu langsung berubah dan sifat cerewetmu mulai keluar. “Ah, Mama ngoceh terus! Kalau belum sempat gimana dong, Ma?” Hanya itu jawaban yang keluar dari mulutku. Pusing rasanya mendengar ocehan Mama. Mama tidak tahu ‘kan, saat Mama menelepon aku sengaja menjauhkan ponselku dari telinga karena bosan mendengar ocehan Mama? Maaf ya, Ma

Di saat aku jauh dari rumah, banyak hal yang aku lakukan tanpa sepengetahuan Mama. Ada beberapa hal yang kutahu tak boleh aku langgar, namun tetap aku lakukan. Harus kuakui, ketika melakukannya, aku terhibur dan sedikit bangga

Aku jahat ya, Ma? Aku anak pembohong. Mama masih mau menyayangi anak pembohong sepertiku

Tahukah kalau aku sangat takut untuk memperkenalkan calon menantumu? Aku takut Mama tidak setuju dengan pilihan hidupku nanti. Takut Mama kecewa jika nantinya aku gagal dalam pernikahanku. Tidak ada rasanya yang lebih mengintimidasi dari ucapan “Ma, kenalin: ini calon menantu Mama.”

Senyummu membuyarkan kegelisahanku.

Kamu senang sama dia? Sudah yakin? Yang penting itu kebahagiaanmu sendiri

Ma, wajahmu mulai menua. Mulai ada keriput disana, membuatku sadar ragamu tidak sekuat dulu. Penyakit mulai mengerogoti tubuhmu. Aku pun pernah harus melihatmu terbaring di atas tempat tidur. Tapi kau malah tetap tersenyum dan menanyakan apa aku sudah makan

Ma, tenang! Aku sudah makan

Izinkan aku mengatakan sesuatu yang belum sempat kusampaikan langsung. Aku tidak tahu kapan kita akan berpisah. Ada saatnya, aku akan mengantarkanmu ke tempat peristirahatan terakhirmu. Atau mungkin saja Mama yang mengantarkanku. Apapun akhirnya, akan ada saat dimana kita berdua harus rela. Kapanpun itu, hanya Yang Disana yang tahu. Aku hanya ingin mengingat bahwa kita pasti kembali bertemu

Mama, Ibu, Ibundaku

Terima kasih sudah memutuskan memilikiku. Terima kasih sudah memperkenalkanku pada dunia. Terima kasih sudah mengajarkanku apa arti perjuangan

Maafkan anakmu ini: yang selalu membuatmu was-was, yang selalu bertindak semrawut, yang tak cukup sering menyapu rumah…ah

Aku hanya bisa berharap untuk terus bisa memberikan yang lebih baik lagi untukmu. Secerewet apa pun dirimu, Mama tetap wanita nomor satu bagiku

Aku tidak bisa memilih siapa yang menjadi ibuku. Mama pun tak tahu anak seperti apa yang akhirnya lahir dari rahim Mama. Tuhan yang mempertemukan kita

Aku bersyukur bisa berkenalan dengan Mama. Tersenyumlah, Ma,

Penggemar beratmu nomor satu

Anakmu

11:27 AM

12/22/2016

M. Arifky Ramdani

Iklan

Selamat 3 tahunan, Teman hidupku!


“Selamat tanggal 22, semoga kita menjadi lebih baik lagi, kompak dan longlast. I love you so much!.”

Itulah pesan singkat yang biasanya selalu memulai hariku setiap tanggal itu  disetiap bulannya. Pesan singkat yang selalu memulai hari baruku. Dimana, saat hari dan tanggal itu pula kamu datang dan memasuki selir hatiku perlahan. Dimana saat dimulainya kata sayang itu kami lontarkan, dan selalu memulai untuk membuat kenangan setiap harinya.

Aku tak pernah lupa dengan tanggal itu. Biarpun masa-masa itu telah berlalu, aku tak pernah lupa. Tolong, jangan paksa aku untuk melupakan kenangan kita. Kamu boleh memerintahkan aku untuk melupakanmu. Kamu boleh meniadakan segalanya. Tapi tidak bagiku. Karena hal itulah yang tetap bisa kugenggam erat; meski tanpamu.

Aku masih ingat betul, saat aku pernah menjadi yang paling bahagia karena rangkul pelukmu. Aku pernah berada dalam keadaan baik-baik saja saat jemariku masih erat mengenggam jemarimu. Kita pernah merasa bahwa yang aku dan kamu jalani selama ini adalah yang selama ini kita cari. Sebuah kebahagiaan tanpa syarat yang tak terbatas dan nyata walau kita berbeda. Sudah lewat 4 bulan semenjak semua itu berlalu namun ingatanku masih saja sangat tajam mengenang kita yang dulu pernah ada. Aku pernah kau buat tertawa karenamu dalam setiap candaan kita, dalam setiap pesan singkat, di dalam desisan suara telepon, dan dalam setiap tatap mata kita. Saat itu aku percaya, kupercaya bahwa kamu kelak akan membukakan pendapat ini tentang cinta dan kasih sayang, yang mengubah pendapatku bahwa tak selalu cinta itu luka dan dusta. Kehadiranmu membuat aku percaya, bahwa kita sedang dalam perjalanan.

Ternyata tak semua itu benar. Meskipun pernah terjadi, namun kini persepsiku tetap sama. Kau tuaikan luka yang sama.

Kini, kurasa kau berusaha sekeras mungkin untuk pergi dariku, setelah kau mengacuhkan aku, dan kau diamkan perasaan aku yang tak bersalah ini. Setelah kau buat aku terhipnotis dengan kata-katamu, dan segala janji-janjimu. Kau pergi, lalu kau mencari orang yang lebih baru. Aku tahu, kau mungkin tak terlalu mempublikasikan soal hubungan barumu itu. Namun, aku tahu hati pria mana saja yang sudah kau singgahi setelah aku. Tak perlu kuberitahu, kurasa kau akan tertegun jika aku menulis atau mengatakan namanya kepadamu.

Andai kamu tahu rasanya menunggu untuk sesuatu yang tak pasti. Andai kamu tahu rasanya rindu tanpa harus mengeluarkan suara dan terpaku membisu, andai kamu disetiap air mataku yang jatuh hanya karenamu. Andai kamu tahu aku selalu melihatmu dari sudut yang tak pernah kau ketahui tempatnya, Andai kamu tahu bahwa aku merasakan siksaan yang luar biasa saat melihat senyummu dengan orang yang lebih baru, atau saat kamu berbicara dengan salah seorang temanmu namun aku disini dibiarkan seolah seperti patung. Andai kamu tahu besar rasa cinta ini. Yang kamu tahu adalah, aku orang yang lebih dulu menjadi penganggu kehidupanmu. Yang tak pernah mengerti situasimu, dan yang selalu kau benci dan tidak menghiraukannya.

Selamat menjajah hati yang lainnya! Semoga kau menemukan pria yang sama dengan seleramu.

Dari aku, yang selalu merapal tanganku untuk berdoa tentangmu.
Aku masih punya rasa yang sama.

1:34 AM

12/22/2016

M. Arifky Ramdani

Selamat ulang tahun, teman hidupku.

Aku mungkin tidak terlalu mengingatnya foto di atas diambil pada tahun berapa. Namun yang akan selalu ku ingat adalah hari ini, hari specialmu yang tak pernah ku lupakan sedikit pun walau dalam hitungan jam, menit, bahkan detik sekali pun itu memungkinkan.

Selamat ulang tahun ca, kekasihku, teman hidupku, masa depanku, my Bby, my Dearmou. Tepat hari ini usiamu genap 6207 hari. Ups, maksudku 17 tahun. Semoga kelak kamu menjadi manusia yang bertanggung jawab dengan apa yang sudah kamu perbuat di masa lalu. Semoga baktimu kepada kedua orang tuamu bertambah, panjang umurmu, sehat selalu fisik dan batinmu, prestasimu meningkat juga ya bby biar cita-cita kita bisa tergapai sepenuhnya. Selalu dalam lindungan tuhan ya bby, lindunganku sudah pasti. Itu nomor satu bagiku.

Semoga kamu bahagia dengan kehidupanmu saat ini. Semoga kamu merasa damai dengan pilihanmu saat ini. Semoga tidak ada lagi yang tersakiti setelah ini.

Maaf aku hanya bisa mengucapkan semua doaku padamu disini. Aku harap kamu memakluminya, dan karena kamu sendiri yang menciptakan jarak di antara kita saat ini. Semoga kamu menyukai ini, semoga kamu membacanya dengan hati senang karenaku. Maafkan aku sekali lagi, kasihku.

Sampai bertemu di kesempatan lain, kasihku.

Dari aku yang selalu merapalkan tanganku, berdoa tentangmu.

Aku masih punya rasa yang sama.

I love you so much, teman hidupku.



Di tengah pekatnya malam.

11:30 PM, 11/25/2016

M. Arifky Ramdani

Best Mistake

Sore yang kelabu itu, aku bersamamu. Hanya sekedar berdialog dan bertatap muka yang dapat ku ingat lekat-lekat. Aku tak akan merutuki pertemuan itu. Biarkan ini berjalan pelan-pelan, seperti hadirmu yang tanpa paksaan kembali hadir dihatiku.

Dunia itu katamu berputar, hidup juga ibarat lingkaran, kini aku tiba di lingkaran itu. Antara tinggal disini atau meninggalkan, keadaan seperti ini seperti dua hal yang sama-sama menyakitkan.
Tolong…

Jangan bandingkan rasaku ini dengan rasa pria lain yang sedang menjajahmu. Aku serius. Ini bukan main-main. Aku sungguh menyayangimu juga mencintaimu, walau dalam diam dan keterbatasan.

Dua bulan yang lalu, aku mengaku salah. Aku membiarkanmu seperti terlepas olehku. Aku menyesalinya. Pukulan telak bagiku. Balasan yang setimpal.

Sepi dan sendiri, aku jalani hidup tanpamu. Awal tak biasa. Namun, lambat laun mulai terbiasa dengan situasinya. Walau sakit dan perih, ku coba tuk lapang. Tapi, tetap saja aku tak terima dengan situasi seperti ini, situasi pahit yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya.

‘Bukan melupakan yang jadi masalahnya. Tapi menerima. Barangsiapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan, hidup bahagia. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah melupakan. Dan tentu saja, tak bahagia.’

5:30 PM, 10/11/2016

M. Arifky Ramdani

Ada rindu dalam kata

Menguasai rindu dalam pilu

Untuk orang sepertimu

Fisik seakan teriris

Hati seperti meringis


Nyaliku seperti fragmen kaca

Perlahan kucoba satukan

Tetapi hanya luka pada akhirnya

Menyedihkan…


Aku senang bermain kata

Karena setiap satuan bahasa

Layaknya gerimis yang menutupi air mata

Tidak terang-terangan mengatakan

Tetapi perlahan-lahan terlepaskan


Bila tiba saat nanti kamu memahami

Sandiku ini bukan untuk kamu tanggapi

Simpan saja untukmu sendiri

Jangan ada yang mengetahui


Agar kamu tahu

Rasanya menyembunyikan sendiri

Seperti aku memendam rindu

Dalam kata yang aku rangkai sendiri




2:16, 29/10/2016

M. Arifky Ramdani

Hujan

Ini bukan tentang kau, juga bukan tentang aku, ini tentang hujan yang melahirkan cerita kau dan aku. Ada paradigma yang berkejaran di kepalaku tiap kali kuputuskan untuk memikirkanmu. Jujur saja, aku selalu memikirkanmu dari jauh sini. Apa kau tak ingat? Ini aku. Aku yang kau cintai, juga kau sakiti. Aku yang selalu ada di hatimu, namun tidak di pikiranmu. Aku yang ingin terus hidup di sampingmu, tetapi mati karenamu. Ini aku. Aku yang menemuimu ketika hujan turun, dan menunggumu ketika hujan turun.

Laksana rinai hujan yang jatuh di tempat yang sama hingga berlubang. Lantas berlaku juga padaku dan hatiku, yang kini tengah berlubang dihantui oleh kenangan yang sama berulang.

Laksana rinai hujan yang tak bisa dicegah datangnya. Begitu juga kenangan, yang semakin ingin dicegah malah makin menjadi. Hingga aku terlanjur basah dalam genangan, kerinduan tak terhingga.

Hujan menafsirkan kedamaian. Hanya rasa, hanya prasangka yang terdengar dalam dialog hujan. Bagiku, hujan bukan bentuk kesakitan. Akan tetapi, hujan adalah sebuah bentuk kerinduan. Kerinduan kepada seseorang yang dulu amat dicinta.

Bagaikan hujan, kau membasahi, lalu pergi sesuka hati.

Bagaikan Hujan, kau berlalu pergi, meninggalkan hawa dingin yang seketika mendominasi.

Bagaikan Hujan, kau meninggalkan jejak, yang selalu kuharap dapat menguap seiring detik yang terlewat.

Dan bagaikan hujan, andai kau tahu, kenangan yang telah terukir, tak akan semudah itu berlalu.

Arifky

24/10/16

Cinta dalam hati

Selamat hari jadi ke 34 bulan, semoga kita selalu kompak, dan mempercayai satu sama lain. Aku sayang kamu.




Aku masih ingat betul, saat aku pernah menjadi yang paling bahagia karena rangkul pelukmu. Aku pernah berada dalam keadaan baik-baik saja saat jemariku masih erat mengenggam jemarimu. Kita pernah merasa bahwa yang aku dan kamu jalani selama ini adalah yang selama ini kita cari. Sebuah kebahagiaan tanpa syarat yang tak terbatas dan nyata walau kita berbeda. Sudah lewat 2 bulan semenjak semua itu berlalu namun ingatanku masih saja sangat tajam mengenang kita yang dulu pernah ada. Aku pernah kau buat tertawa karenamu dalam setiap candaan kita, dalam setiap pesan singkat, di dalam desisan suara telepon, dan dalam setiap tatap mata kita. Saat itu aku percaya bahwa kamu kelak akan membukakan pendapat ini tentang cinta dan kasih sayang, yang mengubah pendapatku bahwa tak selalu cinta itu luka dan dusta. Kehadiranmu membuat aku percaya, bahwa kita sedang dalam perjalanan.

Ternyata tak semua itu benar. Meskipun pernah terjadi, namun kini persepsiku tetap sama. Kau tuaikan luka yang sama.

Kini, kurasa kau berusaha sekeras mungkin untuk pergi dariku, setelah kau mengacuhkan aku, dan kau diamkan perasaan aku yang tak bersalah ini. Setelah kau buat aku terhipnotis dengan kata-katamu, dan segala janji-janjimu. Kau pergi, lalu kau mencari orang yang lebih baru. Aku tahu, kau mungkin tak terlalu mempublikasikan soal hubungan barumu itu. Namun, aku tahu hati pria mana saja yang sudah kau singgahi setelah aku. Tak perlu kuberitahu, kurasa kau akan tertegun jika aku menulis atau mengatakan namanya kepadamu.

Pada hari ini, izinkan aku untuk merapalkan kedua tanganku ke udara. Aku panjatkan doa kerinduan ini, agar segera terwujud pertemuan. Entah pada siapa aku akan mengadu setelahnya.

Andai kamu tahu aku selalu melihatmu dari sudut yang tak pernah kau ketahui tempatnya, Andai kamu tahu bahwa aku merasakan siksaan yang luar biasa saat melihat senyummu dengan orang yang lebih baru, atau saat kamu berbicara dengan salah seorang temanmu namun aku disini dibiarkan seolah seperti patung. Andai kamu tahu besar rasa cinta ini. Yang kamu tahu adalah, aku orang yang lebih dulu menjadi penganggu kehidupanmu. Yang tak pernah mengerti situasimu, dan yang selalu kau benci dan tidak menghiraukannya.

Ah! Aku cemburu!

Namun aku teringat dengan ucapan Ibuku, bahwa cemburu hanya untuk orang-orang yang tak percaya diri. Dan sepertinya, saat ini aku sedang tidak percaya diri.

Jika saja aku boleh jujur, aku masih sangat mencintamu. Rasanya masih sama, seperti 3 tahun yang lalu saat aku dan kamu memulai sebuah keterikatan ini. Namun, sebuah keterikatan lain yang dinobatkan kepadamu olehnya kini membuat adanya jarak diantara aku, dan kamu. Bukan lagi dari Samudera Atlantik sampai Samudera Pasifik. Bahkan jika bisa lebih jauh dari itu, aku akan mengatakan “Ya”.


Dan kini, aku tak akan mengganggumu, tak juga merusak semua kepunyaanmu. Kini saatnya waktuku untuk menunggu. Aku percaya, Tuhan selalu bersama orang-orang yang sabar dan percaya. Mungkin ini belum waktunya. Waktuku untuk bersamanya kembali menjalani sebuah hubungan dengan adanya keterikatan.

Kini biarkan aku bersama kesendirian serta kesepian untuk menghabiskan hari-hariku. Meratapi masa lalu yang indah bersamamu.

Tuhan Maha Adil, Tuhan Maha Bijaksana. Tuhan selalu memberikan yang terbaik untuk setiap hambanya. 

Jika sudah waktunya, tuhan akan mempertemukan aku dan kamu kembali. Dan kalau saja diperbolehkan, aku akan kembali menjalani sebuah janji yang dulu pernah sama-sama aku dan kamu ingkari.

Dari aku, yang selalu menunggumu untuk kembali pulang kepelukanku. Aku masih punya rasa yang sama.